Klinik Mata Utama kembali menggelar workshop phacoemulsifikasi

77 Dokter Mata Antusias Ikuti Workshop Phacoemulsifikasi

Klinik Mata Utama kembali menggelar workshop phacoemulsifikasi, Sabtu Minggu 30/6 – 1 Juli, di Shangrila Hotel, Surabaya.

Phacoemulsifikasi merupakan teknik operasi katarak yang canggih.
Yakni operasi katarak tanpa jahitan, tidak terasa sakit, dan hanya butuh waktu 10 menit.

Peserta workshop kali ini dibagi dalam dua level, kelas basic dan kelas intermediate. Tak kurang 77 dokter mata yang antusias menjadi peserta, berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan kerja sama Klinik Mata Utama, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Jatim, dan Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS).

Para peserta lebih banyak belajar praktik langsung menggunakan peralatan baru dan canggih. Media belajarnya menggunakan Kitaro, semacam mata palsu.

Menurut Direktur KMU dr Uyik Unari SpM, latar belakang pelaksanaan workshop ini adalah karena masih banyaknya kasus katarak di Indonesia. Di sisi lain, masih banyak dokter mata yang melakukan operasi dengan teknik lama yang juga butuh waktu lebih lama. Mereka belum menguasai teknik phacoemulsifikasi.

Sehingga tak sebanding antara kebutuhan operasi dengan kecepatan layanan dan keahlian. Resikonya banyak kasus katarak yang terlambat ditangani. Padahal bisa beresiko pada kebutaan.

“Selama ini tak sedikit sejawat dokter yang belajarnya harus ke luar negeri. Karenanya dengan menggelar di sini, makin banyak dokter mata yang bisa belajar,” katanya.

Teknik phacoemulsifikasi sendiri sampai sekarang belum diajarkan di kampus-kampus kedokteran di Indonesia. Sehingga workshop ini merupakan terobosan peningkatan kualifikasi dokter mata yang sangat diminati.

“Bagi KMU, ini merupakan pelaksanaan dari visi edukasi. Bahwa KMU terus turut mendorong para dokter mata tak henti belajar dan siap pula mengaajri kolega lainnya. Ilmunya harus dibagi. Sehingga makin banyak dokter yang lebih ahli. Makin banyak juga masyarakat yang bisa dilayani,” kata dokter Uyik yang alumni FK Unair ini.