All posts by KMU

TIPS PUASA

Tips Kebutuhan Air Minum Selama Puasa

8 Gelas per hari

  1. 1 Gelas setelah bangun tidur
  2. 1 Gelas setelah sahur
  3. 1 Gelas setelah azan magrib
  4. 1 Gelas setelah sholat magrib
  5. 1 Gelas setelah makan
  6. 1 Gelas setelah sholat isya
  7. 1 Gelas setelah terawih
  8. 1 Gelas sebelum tidur
Read More

Kaca Mata Gratis untuk Yatim Dhuafa

Kabar bahagia untuk warga Gresik dan Lamongan.

Selama Ramadhan 1439 H, Klinik Mata Utama akan berbagi hadiah KACA MATA GRATIS untuk adik-adik yatim-dhuafa dan dhuafa.

Segera manfaatkan layanan ini. Silahkan sebarkan kepada keluarga, teman, tetangga dan siapa saja yang membutuhkan.

Mari bersama menebar bahagia, di bulan Ramadhan Bercahaya.

Read More

Kabar bahagia untuk warga Gresik dan Lamongan

Selama Ramadhan 1439 H, Klinik Mata Utama akan berbagi hadiah KACA MATA GRATIS untuk adik-adik yatim-dhuafa dan dhuafa.

Segera manfaatkan layanan ini. Silahkan sebarkan kepada keluarga, teman, tetangga dan siapa saja yang membutuhkan.

Mari bersama menebar bahagia, di bulan Ramadhan Bercahaya.

Ketentuan :
1. Program ini untuk anak yatim-dhuafa dan dhuafa usia SD-SMP di wilayah Gresik dan Lamongan.
2. Berlangsung mulai tanggal 17 Mei – 09 Juni 2018.
3. Cara pendaftaran kirim wa/sms ke nomor 0822 3205 3333 dengan format : nama (spasi) umur (spasi) sekolah (spasi) alamat rumah.
4. Membawa surat pengantar dari sekolah/panti asuhan/RT/TPQ/takmir masjid setempat.
5. Jadwal dan tempat pemeriksaan akan tentukan oleh KMU sesui kesepakatan.
6. KMU siap bekerjasama dengan sekolah, panti asuhan, TPQ, takmir masjid untuk kesuksesan program ini.
7. Kacamata gratis diberikan untuk 100 pendaftar pertama yang memenuhi syarat.

#ramadhan
#bulansuci
#klinikmatautama
#gresikhits
#lamonganhits
#kacamatagratis
#anakyatim
#dhuafa

 

Read More

KMU Phaco Workshop Batch 3

KMU kembali memberi kesempatan kepada para dokter spesialis mata mengembangkan keahlian. Melalui lini KMUedu, kembali kami gelar Phaco Workshop Batch 3, level Basic (Including Wetlab) dan Intermediate, Sabtu – Ahad, 30 Juni – 1 Juli 2018, di Shangri-La Hotel, Surabaya.

International Speaker :
Ashvin Agarwal, MD

Speaker :
● Hadi Prakoso, MD
● Imam Tiharyo, MD
● Harka Prasetya, MD
● T. Budi Sulistya, MD
● Dicky Hermawan, MD
● IGN Puspajaya, MD
● Heni Riyanto, MD
● Uyik Unari Dwi Kaptuti, MD
● Fitria Romadiana, MD
● Dini Dharmawidiarini, MD
● M. Nurdin Zuhri, MD
● Danti Ayu Irawati, MD
● Irma Suryani, MD

Acara Phaco Workshop Batch 3, merupakan kerjasama antara Klinik Mata Utama, INASCRS, Perdami, dan juga IDI.

Read More

KMU Sebagai Salah Satu Training Center Phacoemulsificatio INASCRS, Kembali Melulusakan 4 Peserta.

Ada yang spesial di Ahad (13/05/2018). Klinik Mata Utama (KMU) sebagai salah satu Training Center Phacoemulsification INASCRS, kembali kedatangan tamu Istimewa dari Jakarta. Beliau adalah dr Hadi Prakoso, SpM(K), Course Director INASCRS.

Tapi yang lebih berbahagia tentu 4 dokter keren ini, dr. Muhammad Mu’amar Habibie, SpM, dr. Bobby Krisna Putra, SpM, dr. Inten Ardiyanti, SpM, dan dr. Erni indraswati, SpM. Karena hari itu mereka menerima sertifikat kelulusan keahlian phacoemulsification.

Kami berterima kasih kepada Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS), yang telah memberi kepercayaan kepada KMU. Semoga ke depan semakin banyak dokter mata yang terus mengembangkan keahlian bersama KMU, sehingga baktinya kepada masyarakat Indonesia makin terasa manfaatnya.

#phaco
#phacoemulsiification
#KlinikMataUtama
#DokterMata
#PusatKatarak
#KatarakCenter

Read More
Dokter Spesialis Mata Terbaik di Klinik Mata Utama Uyik Unari

Berharap Kemudahan dari Allah dengan Memudahkan Orang Lain

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menduduki peringkat kedua jumlah penderita katarak terbanyak di dunia. Setiap tahunnya, hampir 210 ribuwarga Indonesia mengindap katarak yang tak lain merupakan penyebab terbesar terjadinya kebutaan.

Dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM adalah salah satu tenaga medis yang membuktikan gerakan nyata melawan katarak. Direktur utama Klinik Mata Utama (KMU) ini telah mengoperasi sekitar 5.000 penderita katarak  yang sebagian besar berasal dari warga tidak mampu.

“Pasien hanya perlu menyertakan surat tidak mampu dari lembaga apa pun dan biaya operasi akan dibebaskan atau gratis,” kata Dr Uyik saat dihubungi Republika, Senin (30/4).

Terbentuknya KMU, khususnya program operasi katarak gratis, kata Uyik, berawal dari cita-citanya agar ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya staf dan tenaga medis, melainkan juga masyarakat umum.

Tak hanya itu, KMU juga menyediakan edukasi bagi paramedis yang berkeinginan membuka klinik mata serupa di daerah mereka masing-masing. Dengan harapan, gerakan operasi katarak gratis ini dapat menyentuh lebih banyak penderita kurang mampu dan tinggal di wilayah marginal.

“Fokus utama kami memang kegiatan sosial, khususnya membantu kaum dhuafa karena walaupun ada BPJS, tapi tidak semua masyarakat terkover,” kata dia.

“Prisnsip saya, mendirikan KMU ini adalah memberikan kemudahan untuk orang lain karena semakin kita memudahkan orang lain maka Allah juga akan memberikan saya kemudahan pula baik di dunia maupun akherat,” lanjut Uyik.

Selain Uyik dan tenaga medis, KMU juga memiliki puluhan relawan yang bertugas mencari masyarakat yang terindikasi katarak. KMU lantas membawakannya ke klinik untuk mendapatkan operasi gratis yang diadakan setiap Selasa dan Ahad. Kebanyakan relawan, lanjut Uyik adalah sopir yang menawarkan jasa mereka untuk mengantar pasien menuju KMU terdekat.

“Operasinya memang tidak tunggu sampai banyak, jadi seadanya pasien saja. Selain itu, juga tidak ada batasan waktu, jadi pelayanan sudah dibuka dari saya bangun sampai saya tutup mata,”kata dia.

Hingga saat ini, selain memiliki dua klinik pribadi di Gresik dan Lamongan, KMU juga telah bekerjasama dengan delapan rumah sakit di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah yang belum menyediakan poli mata . Di sana KMU akan menyediakan layanan poli beserta alat-alat dan para medis ahli.

 

Saat pertama kali didirikan , Uyik mengaku, hanya mengandalkan dana pribadi untuk melakukan operasi. Tapi, seiring waktu, dukungan dana mulaiberdatangan meskipun tidak dalam bilangan yang besar. Saat ini , Uyik mengaku, tidak terlalu bergantung pada dukungan dana karena pemasukan dari KMU sudah cukup untuk menutupi biaya operasi katarak gratis.

“Kalau sekarang, mau ada sponsor atau tidak , saya tetap jalan dan dananya saya sisihkan dari pemasukan klinik, karena tidak semua pemasukan di KMU itu digratiskan atau dhuafa, tapi banyak juga pasien yang berbayar dan semakin ke sini semakin banyak jumlahnya,” jelas dia.

 

Wannita kelahiran Surabaya ini berharap, KMU dapat sedikit mengurangi beban pemerintah untuk menekan jumlah penderita katarak di Indonesia. Dia juga berharap, nantinya klinik mata dengan visi sosial akan terus bermunculan, sehingga akan lebih banyak lagi warga Indonesia yang terbebas dari bahaya katarak.

Nama : Dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM

TTL     : Surabaya, 16 Oktober 1969

Riwayat Pendidikan

  • Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (1988-1994)
  • Fakultas Kedokteran Spesialis Mata FK Unair (2004-2008)

Riwayat Pekerjaan

  • Dokter PTT Pusk Duduksampeyan Gresik (1996-1999)
  • Staf Quality Assurance Dinkes Gresik (1999-2000)
  • Direktur KMU (2010-sekarang)
  • Penulis buku Thausand island of Love

 

Riwayat Organisasi :

  • Yayasan Asy Syifa’ Surabaya
  • Yayasan Pendidikan dan Sosial Al Ummah Gresik
  • IDI Gresik
  • Yayasan Katarak Peduli
Read More
Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak

Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak

Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak
Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri menyaksikan langsung operasi katarak gratis dalam kunjungan hari kedua di Gresik. Operasi katarak ini berlangsung di Klinik Mata Utama di jalan Sumatera, Gresik, Selasa (22/10) siang.

Saat berkunjung itu, Salim menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan para pasien yang telah menjalani operasi. Dia juga memberikan semangat bagi para penderita katarak supaya mereka bisa beraktifitas secara normal lagi seperti sedia kala.
Salim mengatakan katarak adalah penyakit tertinggi kedua di Indonesia. Karena itu pemerintah menaruh perhatian khusus untuk mengobatinya.
“Mata juga merupakan panca inra vital yang berpengaruh pada produktifitas seseorang,” jelas Salim pada sejumlah wartawan ketika itu.
Yang menjadi keprihatinan Salim, bahwa masyarakat Indonesia menempati urutan pertama di Asia Tenggara dan nomor dua di dunia untuk penderita katarak.

Angka penderita katarak ini sangat ironi dan berbanding terbalik dengan kondisi alam Indonesia yang kaya raya. “Penyebab tingginya angka penderita katarak, akibat ekonomi warga yang masih di bawah kecukupan,” ungkap Salim.
Penderita katarak di Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah negara Ethiopia, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah, termasuk menggandeng berbagai komponen.
2000 Pasien

Mencermati posisi negara Indonesia yang jumlah penderita katarak sangat tinggi sehingga pria kelahiran Surakarta ii memberi apresiasi kepada setiap komponen yang ikut serta dalam pengobatan, yang termasuk yang dilakukan oleh Klinik Mata Utama selama ini. Selain menggratiskan biaya operasi, klinik tersebut juga memfokuskan diri sebagai yang terdepan dalam operasi katarak. Klinik ini sudah mengoperasi 2.000 orang secara gratis selama tiga tahun.
“Gerakan sosial seperti ini harus terus ditumbuhkan agar masyarakat kecil dapat merasa hidupnya terbantu,” kata politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ini.

Dalam kesempatan itu, Salim juga menandatangi surat pernyataan Gresik Bebas Katarak. Penandatangan itu disaksikan oleh Direktur Klinik Mata Utama Kaji Rusli, serta Wakil Bupati Gresik M Qosim.
Hari pertama, Mensos Salim meletakkan batu pertama perbaikan rumah di Gresik. Dia juga memberikan bantuan uang tunai Rp 2 juta, satu paket bingkisan berupa sembako dan bedah kamar senilai Rp 10 juta pada Suyati (80), janda warga Gurang anyar, Kecamatan Cerme yang rumahnya di bedah.

Surya, 23 Oktober 2013

Read More

Tiada Hari Tanpa Bakti Sosial

Tiada Hari Tanpa Bakti Sosial
Melakukan kegiatan sosial bagi sebagian orang menjadi wajib hukumnya. Ada kepuasan tersendiri setelah sukses dengan kegiatan sosial ini. Apalagi kegiatan ini berkaitan dengan nilai ibadah plus bertemu dengan teman-teman lama yang dicintai.
Kesenangan untuk berbagi dengan sesama terutama kepada orang-orang yang tidak mampu itulah yang membuat dr. Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM merasakan suatu kepuasan tersendiri. Perempuan yang biasa dipanggil Uyik itu hampir setiap hari dalam kehidupannya tak lepas dari bakti sosial (baksos).

Bukan karena hartanya yang berlimpah, tetapi komitmen untuk menolong dan membantu sesama, menjadikan dokter spesialis penyakit mata itu relameluangkan waktu, tenaga dan harta untuk menolong warga yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk diobati.
“Bakti sosial memang sudah lama. Saya dan teman-teman sejak kuliah dulu sudah sering menggelar bakti sosial khususnya untuk penyakit mata,” kata Uyik.

Sejak awal melakukan baksos hingga kini masih terus dilakukan bahkan tiap hari tanpa henti itu , sudah dilakukan sejak 2009. Saat itu kata ibu yang dikaruniai lima anak itu bersama temannya yang berjumlah 11 orang sedang menemuh pendidikan spesialis mata di Universitas Airlangga.
“Karena sering bertemu, kami membuat kegiatan sosial di antaranya yang sering kami lakukan adalah menggelar pengobatan mata gratis,” tuturnya.

Reuni untuk Warga Tak Mampu

Hobi baksos yang sering dilakukan itu ternyata tidak berhenti saat mereka sudah selesai pendidikan dan mereka harus bertugas sesuai dengan penugasan masing-masing. Uyik dan teman-temannya langsung disebar. Ada yang di Lombok, ada pula yang di Malang, Madura, Jawa Barat, termasuk yang di Gresik yang sekarang menjadi tempat menetap Uyik.

Meskipun sudah tersebar disejumlah tempat ternyata jarak dan waktu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap melakukan kegiatan baksos. Mereka masih kerap janjian untuk bertemu dan melakukan hal yang sama terhadap warga sekitar.
Misalnya saja pada akhir tahun kemarin mereka berkumpul di Lombok, NTT untuk menggelar baksos. “Tidak semua teman bisa datang. Saya kebetulan ada waktu jadi bisa datang ke Lombok,”jelasnya.

Di Lombok ini rekan Uyik adalah dr Dini Dharma. Melalui informasi dari dr Dini itulah didapat beberapa pasien di Lombok yang secepatnya memerlukan penanganan dan bantuan pengobatan. Pada pendataan awal ada ratusan pasien penyakit mata yang harus dilakukan operasi. Namun, karena keterbatasan tenaga , mereka pun sepakat membatasi hanya 100 pasien. Saat itu yang bisa datang hanya tiga dokter.

“Seratus pasien itu kami tangani dalam sehari,” katanya. Kewalahan itu pasti. Namun SOP dalam penanganan tetap menjadi prioritas.
Kini hobi baksos Uyik dan teman-temannya tetap berlangsung. Jika ada pasien dan waktu yang mendukung, mereka langsung lakukan penanganan. Beberapa tempat yang pernah dilakukan adalah di Bali, Bangkalan, Gresik tempat Uyik, dan di Lombok.
Rencananya baksos yang akan datang akan dilakukan di Pamulang, Jawa Barat. “Teman-teman ingin ada baksos di Jawa Barat. Tahun ini mudah-mudahan bisa terlaksana,”lanjutnya.

Selain bertemu melalui baksos, 11 orang dokter spesialis mata ini biasanya bertemu pada acara seminar-seminar tentang penyakit mata. Dalam rencana mendatang ke-11 dokter mata yakni dr Uyik Unari SpM, dr Miftakhur Rahman SpM, dr Ariesanti Trihandayani SpM, dr Elizabeth Sri Subekti , dr Lina Puspita Hutasoit SpM, dr Heni Wijayanti SpM, dr Yulia Primitasari SpM, dr Irma Pasaribu SpM, dr Dini Dharmawidyarini SpM, dr Yana Rosita SpM, dan dr Fitria Romadiana SpM., akan bertemu pada pertemuan dokter mata internasional di Tokyo Jepang 2014 mendatang. “Mudah-mudahan semua rekan bisa bertemu di ajang ini,” ungkapnya.

Sumber Surya, 28 April 2013

Read More
Operasi Katarak Canggih Hadir di Mojokerto

Kertas Berisi Doa

Kesibukan Uyik dalam menggelar baksos dapat terobati dengan bergabungnya suami dan anak-anaknya. “Anak-anak membantu mencari pasien, suami mendukung dari sisi biaya,” ujar istri dari Ir M Rusli MMT ini.

Saat mencari dan meng-scanning pasien di luar kota misalnya, ada anaknya yang ikut bergabung dan membantu mewawancarai pasien sebelum diambil tindakan medis. Scanning pasien ini rupanya cukup memberikan perhatian lebih bagi tim Uyik, karena meskipun sifatnya baksos ia ingin pasien yang datang ke tempatnya ini benar-benar pasien yang tidak mampu.

Selain scanning dengan melihat surat pernyataan dari lingkungan tempat tinggal mereka seperti dari RT, RW, desa, atau kelurahan, Uyik juga melampirkan secarik kertas yang isinya pernyataan dari pasien jika mereka benar warga tidak mampu.

“Di surat pernyataan itu saya tuliskan jika pengakuan tidak mampu di surat pernyataan itu adalah doa,” paparnya. Itu cukup manjur menjaring pasien tidak mampu, karena sudah biasa yang namanya gratis pasti akan diserbu oleh warga.

Selain anak-anak dan suami, sejumlah kerabatnya juga mulai aktif membantu, mereka juga mendirikan yayasan katarak pedulu. “Ini support dari saudara-saudara sendiri,” kata Uyik yang mulai dilirik oleh sejumlah parpol karena kegigihannya menjalankan baksos ke warga tidak mampu ini.

Prinsipnya, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. “Namanya rezeki itu kan bukan hanya uang, tetapi kesehatan seperti sekarang ini kan juga rezeki,” tutur Uyik yang ketua Geng Nemo, perkumpulan dokter mata perempuan.

 

Sumber: Surya 28 April 2018

Read More

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

Bila ia dan teman-temannya seangkatan menggelar baksos hanya pada waktu tertentu karena harus menyesuaikan dengan waktu dan kesempatan, di Gresik, tempat Uyik praktik baksos malah digelar setiap hari.

“Klinik saya setiap hari kami lakukan baksos, mereka yang benar-benar membutuhkan, kami berikan pengobatan gratis termasuk kalau harus operasi,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Unair tahun 1995 itu.

Baksos yang digelar Uyik dilakukan dengan mencari pasien sendiri ke pelosok di wilayah Gresik dan sekitarnya. “Saya mencari pasien dengan datang kedesa-desa di wilayah Gresik,”katanya.
Warga masyarakat yang ingin mendapat fasilitas pengobatan cuma-cuma itu bukan hanya berasal dari Gresik. Itu membuat Klinik Mata Utama milik Uyik dikenal.

“Mungkin melalui saudara atau tetangga mereka juga datang dari beberapa wilayah lainnya yang bertetangga dengan Gresik, seperti Lamongan, Tuban, Mojokerto, hingga Tuban,” paparnya.
Melihat antusiame masyarakat itu, mau tidak mau Uyik akhirnya juga harus memberikan perhatian kepada pasien yang berada di luar Gresik. Dengan dibantu tim, Uyik pun blusukan ke sejumlah daerah untuk scanning pasien yang akan mendapat pengobatan gratis.
“Saya datang ke suatu tempat itu melalui kepala desa. Kami berikan pengarahan dan bila ada yang harus diobati mereka saya suruh datang ke klinik kami. Semuanya gratis,” ujarnya.

Di kliniknya ada empat dokter dan lima paramedic. Mereka itulah yang menjadi teman-teman setia Uyik dalam melakukan kegiatan baksos di kliniknya. Tidak ada perbedaan penanganan kepada pasien baksos yang datang dengan pasien privat yang ada di kliniknya.
Namun, untuk mempermudah biasanya pasien baksos ini penanganan dilakukan pada pagi hingga siang. Pasien baksos yang datang ini jumlahna 70 persen dibandingdengan pasien privat yang ditangani yang hanya 30 persen.

Surya: Minggu, 28 April 2013

Read More