All Posts in Category: Informasi

Kabar bahagia untuk warga Gresik dan Lamongan

Selama Ramadhan 1439 H, Klinik Mata Utama akan berbagi hadiah KACA MATA GRATIS untuk adik-adik yatim-dhuafa dan dhuafa.

Segera manfaatkan layanan ini. Silahkan sebarkan kepada keluarga, teman, tetangga dan siapa saja yang membutuhkan.

Mari bersama menebar bahagia, di bulan Ramadhan Bercahaya.

Ketentuan :
1. Program ini untuk anak yatim-dhuafa dan dhuafa usia SD-SMP di wilayah Gresik dan Lamongan.
2. Berlangsung mulai tanggal 17 Mei – 09 Juni 2018.
3. Cara pendaftaran kirim wa/sms ke nomor 0822 3205 3333 dengan format : nama (spasi) umur (spasi) sekolah (spasi) alamat rumah.
4. Membawa surat pengantar dari sekolah/panti asuhan/RT/TPQ/takmir masjid setempat.
5. Jadwal dan tempat pemeriksaan akan tentukan oleh KMU sesui kesepakatan.
6. KMU siap bekerjasama dengan sekolah, panti asuhan, TPQ, takmir masjid untuk kesuksesan program ini.
7. Kacamata gratis diberikan untuk 100 pendaftar pertama yang memenuhi syarat.

#ramadhan
#bulansuci
#klinikmatautama
#gresikhits
#lamonganhits
#kacamatagratis
#anakyatim
#dhuafa

 

Read More

KMU Phaco Workshop Batch 3

KMU kembali memberi kesempatan kepada para dokter spesialis mata mengembangkan keahlian. Melalui lini KMUedu, kembali kami gelar Phaco Workshop Batch 3, level Basic (Including Wetlab) dan Intermediate, Sabtu – Ahad, 30 Juni – 1 Juli 2018, di Shangri-La Hotel, Surabaya.

International Speaker :
Ashvin Agarwal, MD

Speaker :
● Hadi Prakoso, MD
● Imam Tiharyo, MD
● Harka Prasetya, MD
● T. Budi Sulistya, MD
● Dicky Hermawan, MD
● IGN Puspajaya, MD
● Heni Riyanto, MD
● Uyik Unari Dwi Kaptuti, MD
● Fitria Romadiana, MD
● Dini Dharmawidiarini, MD
● M. Nurdin Zuhri, MD
● Danti Ayu Irawati, MD
● Irma Suryani, MD

Acara Phaco Workshop Batch 3, merupakan kerjasama antara Klinik Mata Utama, INASCRS, Perdami, dan juga IDI.

Read More

KMU Sebagai Salah Satu Training Center Phacoemulsificatio INASCRS, Kembali Melulusakan 4 Peserta.

Ada yang spesial di Ahad (13/05/2018). Klinik Mata Utama (KMU) sebagai salah satu Training Center Phacoemulsification INASCRS, kembali kedatangan tamu Istimewa dari Jakarta. Beliau adalah dr Hadi Prakoso, SpM(K), Course Director INASCRS.

Tapi yang lebih berbahagia tentu 4 dokter keren ini, dr. Muhammad Mu’amar Habibie, SpM, dr. Bobby Krisna Putra, SpM, dr. Inten Ardiyanti, SpM, dan dr. Erni indraswati, SpM. Karena hari itu mereka menerima sertifikat kelulusan keahlian phacoemulsification.

Kami berterima kasih kepada Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS), yang telah memberi kepercayaan kepada KMU. Semoga ke depan semakin banyak dokter mata yang terus mengembangkan keahlian bersama KMU, sehingga baktinya kepada masyarakat Indonesia makin terasa manfaatnya.

#phaco
#phacoemulsiification
#KlinikMataUtama
#DokterMata
#PusatKatarak
#KatarakCenter

Read More
Dokter Spesialis Mata Terbaik di Klinik Mata Utama Uyik Unari

Berharap Kemudahan dari Allah dengan Memudahkan Orang Lain

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menduduki peringkat kedua jumlah penderita katarak terbanyak di dunia. Setiap tahunnya, hampir 210 ribuwarga Indonesia mengindap katarak yang tak lain merupakan penyebab terbesar terjadinya kebutaan.

Dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM adalah salah satu tenaga medis yang membuktikan gerakan nyata melawan katarak. Direktur utama Klinik Mata Utama (KMU) ini telah mengoperasi sekitar 5.000 penderita katarak  yang sebagian besar berasal dari warga tidak mampu.

“Pasien hanya perlu menyertakan surat tidak mampu dari lembaga apa pun dan biaya operasi akan dibebaskan atau gratis,” kata Dr Uyik saat dihubungi Republika, Senin (30/4).

Terbentuknya KMU, khususnya program operasi katarak gratis, kata Uyik, berawal dari cita-citanya agar ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya staf dan tenaga medis, melainkan juga masyarakat umum.

Tak hanya itu, KMU juga menyediakan edukasi bagi paramedis yang berkeinginan membuka klinik mata serupa di daerah mereka masing-masing. Dengan harapan, gerakan operasi katarak gratis ini dapat menyentuh lebih banyak penderita kurang mampu dan tinggal di wilayah marginal.

“Fokus utama kami memang kegiatan sosial, khususnya membantu kaum dhuafa karena walaupun ada BPJS, tapi tidak semua masyarakat terkover,” kata dia.

“Prisnsip saya, mendirikan KMU ini adalah memberikan kemudahan untuk orang lain karena semakin kita memudahkan orang lain maka Allah juga akan memberikan saya kemudahan pula baik di dunia maupun akherat,” lanjut Uyik.

Selain Uyik dan tenaga medis, KMU juga memiliki puluhan relawan yang bertugas mencari masyarakat yang terindikasi katarak. KMU lantas membawakannya ke klinik untuk mendapatkan operasi gratis yang diadakan setiap Selasa dan Ahad. Kebanyakan relawan, lanjut Uyik adalah sopir yang menawarkan jasa mereka untuk mengantar pasien menuju KMU terdekat.

“Operasinya memang tidak tunggu sampai banyak, jadi seadanya pasien saja. Selain itu, juga tidak ada batasan waktu, jadi pelayanan sudah dibuka dari saya bangun sampai saya tutup mata,”kata dia.

Hingga saat ini, selain memiliki dua klinik pribadi di Gresik dan Lamongan, KMU juga telah bekerjasama dengan delapan rumah sakit di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah yang belum menyediakan poli mata . Di sana KMU akan menyediakan layanan poli beserta alat-alat dan para medis ahli.

 

Saat pertama kali didirikan , Uyik mengaku, hanya mengandalkan dana pribadi untuk melakukan operasi. Tapi, seiring waktu, dukungan dana mulaiberdatangan meskipun tidak dalam bilangan yang besar. Saat ini , Uyik mengaku, tidak terlalu bergantung pada dukungan dana karena pemasukan dari KMU sudah cukup untuk menutupi biaya operasi katarak gratis.

“Kalau sekarang, mau ada sponsor atau tidak , saya tetap jalan dan dananya saya sisihkan dari pemasukan klinik, karena tidak semua pemasukan di KMU itu digratiskan atau dhuafa, tapi banyak juga pasien yang berbayar dan semakin ke sini semakin banyak jumlahnya,” jelas dia.

 

Wannita kelahiran Surabaya ini berharap, KMU dapat sedikit mengurangi beban pemerintah untuk menekan jumlah penderita katarak di Indonesia. Dia juga berharap, nantinya klinik mata dengan visi sosial akan terus bermunculan, sehingga akan lebih banyak lagi warga Indonesia yang terbebas dari bahaya katarak.

Nama : Dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM

TTL     : Surabaya, 16 Oktober 1969

Riwayat Pendidikan

  • Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (1988-1994)
  • Fakultas Kedokteran Spesialis Mata FK Unair (2004-2008)

Riwayat Pekerjaan

  • Dokter PTT Pusk Duduksampeyan Gresik (1996-1999)
  • Staf Quality Assurance Dinkes Gresik (1999-2000)
  • Direktur KMU (2010-sekarang)
  • Penulis buku Thausand island of Love

 

Riwayat Organisasi :

  • Yayasan Asy Syifa’ Surabaya
  • Yayasan Pendidikan dan Sosial Al Ummah Gresik
  • IDI Gresik
  • Yayasan Katarak Peduli
Read More
Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak

Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak

Mensos Dukung Gresik Bebas Katarak
Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri menyaksikan langsung operasi katarak gratis dalam kunjungan hari kedua di Gresik. Operasi katarak ini berlangsung di Klinik Mata Utama di jalan Sumatera, Gresik, Selasa (22/10) siang.

Saat berkunjung itu, Salim menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan para pasien yang telah menjalani operasi. Dia juga memberikan semangat bagi para penderita katarak supaya mereka bisa beraktifitas secara normal lagi seperti sedia kala.
Salim mengatakan katarak adalah penyakit tertinggi kedua di Indonesia. Karena itu pemerintah menaruh perhatian khusus untuk mengobatinya.
“Mata juga merupakan panca inra vital yang berpengaruh pada produktifitas seseorang,” jelas Salim pada sejumlah wartawan ketika itu.
Yang menjadi keprihatinan Salim, bahwa masyarakat Indonesia menempati urutan pertama di Asia Tenggara dan nomor dua di dunia untuk penderita katarak.

Angka penderita katarak ini sangat ironi dan berbanding terbalik dengan kondisi alam Indonesia yang kaya raya. “Penyebab tingginya angka penderita katarak, akibat ekonomi warga yang masih di bawah kecukupan,” ungkap Salim.
Penderita katarak di Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah negara Ethiopia, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah, termasuk menggandeng berbagai komponen.
2000 Pasien

Mencermati posisi negara Indonesia yang jumlah penderita katarak sangat tinggi sehingga pria kelahiran Surakarta ii memberi apresiasi kepada setiap komponen yang ikut serta dalam pengobatan, yang termasuk yang dilakukan oleh Klinik Mata Utama selama ini. Selain menggratiskan biaya operasi, klinik tersebut juga memfokuskan diri sebagai yang terdepan dalam operasi katarak. Klinik ini sudah mengoperasi 2.000 orang secara gratis selama tiga tahun.
“Gerakan sosial seperti ini harus terus ditumbuhkan agar masyarakat kecil dapat merasa hidupnya terbantu,” kata politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ini.

Dalam kesempatan itu, Salim juga menandatangi surat pernyataan Gresik Bebas Katarak. Penandatangan itu disaksikan oleh Direktur Klinik Mata Utama Kaji Rusli, serta Wakil Bupati Gresik M Qosim.
Hari pertama, Mensos Salim meletakkan batu pertama perbaikan rumah di Gresik. Dia juga memberikan bantuan uang tunai Rp 2 juta, satu paket bingkisan berupa sembako dan bedah kamar senilai Rp 10 juta pada Suyati (80), janda warga Gurang anyar, Kecamatan Cerme yang rumahnya di bedah.

Surya, 23 Oktober 2013

Read More

Tiada Hari Tanpa Bakti Sosial

Tiada Hari Tanpa Bakti Sosial
Melakukan kegiatan sosial bagi sebagian orang menjadi wajib hukumnya. Ada kepuasan tersendiri setelah sukses dengan kegiatan sosial ini. Apalagi kegiatan ini berkaitan dengan nilai ibadah plus bertemu dengan teman-teman lama yang dicintai.
Kesenangan untuk berbagi dengan sesama terutama kepada orang-orang yang tidak mampu itulah yang membuat dr. Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM merasakan suatu kepuasan tersendiri. Perempuan yang biasa dipanggil Uyik itu hampir setiap hari dalam kehidupannya tak lepas dari bakti sosial (baksos).

Bukan karena hartanya yang berlimpah, tetapi komitmen untuk menolong dan membantu sesama, menjadikan dokter spesialis penyakit mata itu relameluangkan waktu, tenaga dan harta untuk menolong warga yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk diobati.
“Bakti sosial memang sudah lama. Saya dan teman-teman sejak kuliah dulu sudah sering menggelar bakti sosial khususnya untuk penyakit mata,” kata Uyik.

Sejak awal melakukan baksos hingga kini masih terus dilakukan bahkan tiap hari tanpa henti itu , sudah dilakukan sejak 2009. Saat itu kata ibu yang dikaruniai lima anak itu bersama temannya yang berjumlah 11 orang sedang menemuh pendidikan spesialis mata di Universitas Airlangga.
“Karena sering bertemu, kami membuat kegiatan sosial di antaranya yang sering kami lakukan adalah menggelar pengobatan mata gratis,” tuturnya.

Reuni untuk Warga Tak Mampu

Hobi baksos yang sering dilakukan itu ternyata tidak berhenti saat mereka sudah selesai pendidikan dan mereka harus bertugas sesuai dengan penugasan masing-masing. Uyik dan teman-temannya langsung disebar. Ada yang di Lombok, ada pula yang di Malang, Madura, Jawa Barat, termasuk yang di Gresik yang sekarang menjadi tempat menetap Uyik.

Meskipun sudah tersebar disejumlah tempat ternyata jarak dan waktu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap melakukan kegiatan baksos. Mereka masih kerap janjian untuk bertemu dan melakukan hal yang sama terhadap warga sekitar.
Misalnya saja pada akhir tahun kemarin mereka berkumpul di Lombok, NTT untuk menggelar baksos. “Tidak semua teman bisa datang. Saya kebetulan ada waktu jadi bisa datang ke Lombok,”jelasnya.

Di Lombok ini rekan Uyik adalah dr Dini Dharma. Melalui informasi dari dr Dini itulah didapat beberapa pasien di Lombok yang secepatnya memerlukan penanganan dan bantuan pengobatan. Pada pendataan awal ada ratusan pasien penyakit mata yang harus dilakukan operasi. Namun, karena keterbatasan tenaga , mereka pun sepakat membatasi hanya 100 pasien. Saat itu yang bisa datang hanya tiga dokter.

“Seratus pasien itu kami tangani dalam sehari,” katanya. Kewalahan itu pasti. Namun SOP dalam penanganan tetap menjadi prioritas.
Kini hobi baksos Uyik dan teman-temannya tetap berlangsung. Jika ada pasien dan waktu yang mendukung, mereka langsung lakukan penanganan. Beberapa tempat yang pernah dilakukan adalah di Bali, Bangkalan, Gresik tempat Uyik, dan di Lombok.
Rencananya baksos yang akan datang akan dilakukan di Pamulang, Jawa Barat. “Teman-teman ingin ada baksos di Jawa Barat. Tahun ini mudah-mudahan bisa terlaksana,”lanjutnya.

Selain bertemu melalui baksos, 11 orang dokter spesialis mata ini biasanya bertemu pada acara seminar-seminar tentang penyakit mata. Dalam rencana mendatang ke-11 dokter mata yakni dr Uyik Unari SpM, dr Miftakhur Rahman SpM, dr Ariesanti Trihandayani SpM, dr Elizabeth Sri Subekti , dr Lina Puspita Hutasoit SpM, dr Heni Wijayanti SpM, dr Yulia Primitasari SpM, dr Irma Pasaribu SpM, dr Dini Dharmawidyarini SpM, dr Yana Rosita SpM, dan dr Fitria Romadiana SpM., akan bertemu pada pertemuan dokter mata internasional di Tokyo Jepang 2014 mendatang. “Mudah-mudahan semua rekan bisa bertemu di ajang ini,” ungkapnya.

Sumber Surya, 28 April 2013

Read More
Operasi Katarak Canggih Hadir di Mojokerto

Kertas Berisi Doa

Kesibukan Uyik dalam menggelar baksos dapat terobati dengan bergabungnya suami dan anak-anaknya. “Anak-anak membantu mencari pasien, suami mendukung dari sisi biaya,” ujar istri dari Ir M Rusli MMT ini.

Saat mencari dan meng-scanning pasien di luar kota misalnya, ada anaknya yang ikut bergabung dan membantu mewawancarai pasien sebelum diambil tindakan medis. Scanning pasien ini rupanya cukup memberikan perhatian lebih bagi tim Uyik, karena meskipun sifatnya baksos ia ingin pasien yang datang ke tempatnya ini benar-benar pasien yang tidak mampu.

Selain scanning dengan melihat surat pernyataan dari lingkungan tempat tinggal mereka seperti dari RT, RW, desa, atau kelurahan, Uyik juga melampirkan secarik kertas yang isinya pernyataan dari pasien jika mereka benar warga tidak mampu.

“Di surat pernyataan itu saya tuliskan jika pengakuan tidak mampu di surat pernyataan itu adalah doa,” paparnya. Itu cukup manjur menjaring pasien tidak mampu, karena sudah biasa yang namanya gratis pasti akan diserbu oleh warga.

Selain anak-anak dan suami, sejumlah kerabatnya juga mulai aktif membantu, mereka juga mendirikan yayasan katarak pedulu. “Ini support dari saudara-saudara sendiri,” kata Uyik yang mulai dilirik oleh sejumlah parpol karena kegigihannya menjalankan baksos ke warga tidak mampu ini.

Prinsipnya, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. “Namanya rezeki itu kan bukan hanya uang, tetapi kesehatan seperti sekarang ini kan juga rezeki,” tutur Uyik yang ketua Geng Nemo, perkumpulan dokter mata perempuan.

 

Sumber: Surya 28 April 2018

Read More

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

Bila ia dan teman-temannya seangkatan menggelar baksos hanya pada waktu tertentu karena harus menyesuaikan dengan waktu dan kesempatan, di Gresik, tempat Uyik praktik baksos malah digelar setiap hari.

“Klinik saya setiap hari kami lakukan baksos, mereka yang benar-benar membutuhkan, kami berikan pengobatan gratis termasuk kalau harus operasi,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Unair tahun 1995 itu.

Baksos yang digelar Uyik dilakukan dengan mencari pasien sendiri ke pelosok di wilayah Gresik dan sekitarnya. “Saya mencari pasien dengan datang kedesa-desa di wilayah Gresik,”katanya.
Warga masyarakat yang ingin mendapat fasilitas pengobatan cuma-cuma itu bukan hanya berasal dari Gresik. Itu membuat Klinik Mata Utama milik Uyik dikenal.

“Mungkin melalui saudara atau tetangga mereka juga datang dari beberapa wilayah lainnya yang bertetangga dengan Gresik, seperti Lamongan, Tuban, Mojokerto, hingga Tuban,” paparnya.
Melihat antusiame masyarakat itu, mau tidak mau Uyik akhirnya juga harus memberikan perhatian kepada pasien yang berada di luar Gresik. Dengan dibantu tim, Uyik pun blusukan ke sejumlah daerah untuk scanning pasien yang akan mendapat pengobatan gratis.
“Saya datang ke suatu tempat itu melalui kepala desa. Kami berikan pengarahan dan bila ada yang harus diobati mereka saya suruh datang ke klinik kami. Semuanya gratis,” ujarnya.

Di kliniknya ada empat dokter dan lima paramedic. Mereka itulah yang menjadi teman-teman setia Uyik dalam melakukan kegiatan baksos di kliniknya. Tidak ada perbedaan penanganan kepada pasien baksos yang datang dengan pasien privat yang ada di kliniknya.
Namun, untuk mempermudah biasanya pasien baksos ini penanganan dilakukan pada pagi hingga siang. Pasien baksos yang datang ini jumlahna 70 persen dibandingdengan pasien privat yang ditangani yang hanya 30 persen.

Surya: Minggu, 28 April 2013

Read More
dokter uyik unari KMU

Dokter yang Mengoperasi 4000 Penderita Katarak Gratis

Dokter yang Mengoperasi 4000 Penderita Katarak Gratis

Tertawanya berderai renyah, orangnya ramah. Sebagian besar orang mengenal dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM dengan citra seperti itu. Namun, lebih banyak lagi yang mengenal direktur Klinik Mata Utama (KMU) ini sebagai dokter yang memiliki jiwa sosial tinggi.
Kesan itu memang tak salah. Mulai saat KMU berdiri pada 2010 di Jalan Sumatera 27F GKB Kota Gresik, Jawa Timur hingga kini, tak kurang 4.000 mata dhuafa penderita katarak telah dioperasi secara gratis. Syaratnya pun sangat mudah.

“Cukup menunjukan surat pengantar, dari lembaga pemerintahan tingkat desa, atau ahanya dari level RT/RW, bahkan surat pengantar dari majelis taklin sekitar rumahnya, sudah cukup bagi kami untuk tak boleh menolaknya. Harus memberikan layanan yang baik bagi mereka,”kata Uyik saat berbincang dengan Republika, kemarin.

Selain dibiayai dengan dana pribadi dan KMU, operasi katarak gratis juga dibantu salah satu perusahaan obat dan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI). Uyik juga dibantu beberapa koleganya yang mendirikan Yayasan Katarak Peduli (YKP)
Dari mana ribuan pasien tersebut? Uyik dan timnya sering blusukan ke berbagai daerah. Dua tiga kali dalam sepekan, alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini menyediakan semua kemudahan bagi pasien sosial.

Uyik dan suaminya Rusli, punya alasan kuat untuk aktif memberantas katarak. Salah satunya karena berdasarkan data 70 penyebab kebutaan di Indonesia disebabkan katarak. “Harus diberantas dan dituntaskan . Mata masyarakat yang sakit harus kembali bercahaya.” ujar Uyik.

Uyik makin merasa miris saat mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada 2010, misalnya , di Indonesia setiap tahun sekitar 210 ribu orang mengidap katarak. Indonesia berada di peringkat kedua jumlah penderita katarak terbanyak di dunia.

Keprihatinan itulah yang mendorong Uyik dan suami mengemban misi sosial. Bagi keduanya, menolong orang tidak mampu tidak perlu pikir panjang. “Tidak bisa ditunggu. Belum tentu lima tahun kemudian dia punya uang. Harus ditolong segera,”ujar Uyik.

Kini KMU sudah berdiri di 10 lokasi. Uyik pun mengembangkan tiga prinsip pengabdian, yaitu profesional, edukasi, dan sosial. Prinsip profesional menjadikan KMU harus memanfaatkan peralatan dan teknologi medis tercanggih. SDM yang tahu, mau, mampu mengembangkan diri, serta kualitas layanan yang berkesan.

“Prinsip edukasi mendidik kami berendah hati tak henti belajar sekaligus berbesar hati membagi keahlian yang telah dimiliki,” katanya.
Sementara prinsip sosial, memberi jalan agar ringan hati berbagi. Uyik mengaku bersyukur kepada Allah karena KMU sudah diberi kesempatan memberikan layanan operasi katarak gratis bagi 4000 mata. “Sebagai sumbangsih menjaga kesehatan mata generasi baru Indonesia, KMU juga secara rutin menggelar program KMU Goes to School, berupa periksa mata, edukasi, dan bagi kacamata gratis.”

Dari pengalaman menolong ribuan penderita katarak itu lahirlah kisah -kisah unik. Uyik lalu menuangkan coretannya dalam buku berjudul Thausand ISland of Love. Tulisan dibuatnya, termasuk ketika merenung di kamar tidur, melihat tanaman melalui jendela rumah, bahkan di ruang praktik operasi. Begitu datang ide, Uyik langsung mengeksekusinya. Pun kadang ditulis di ponsel juga bisa.

Aneka cerita tadi lalu dikumpulkan menjadi buku. Tujuan utamanya, mengabadikan momen yang pernah dirasakan dan dialami. “Coretan itu saya tulis saat di mana saja. Di sela-sela perjalanan, dalam mobil, pesawat, kereta api, stasiun, atau bandara saat pesawat delay,” jelasnya.
Mbah Darjo (70tahun), warga Sawahan, Kecamatan Cerme, Gresik, termasuk yang bersyukur akhirnya penglihatannya bisa pulih lagi.

Sebagai penarik becak, Mbah Darjo cukup terganggu dengan penglihatannya yang selama ini buram akibat menderita katarak. Namun berkat bantuan KMU yang mau mengoperasi matana secara gratis, ia kini beraktifitas secara normal.”Kalau saya tidak ditolong, saya tidak bisa apa-apa, hanya bisa makan tidur. Terima kasih mata saya bisa melihat lagi dengan jelas,”ujar Mbah Darjo.

Sumber: Republika, Sabtu 21 April 2018

Read More
Komunitas Dokter Mata Perempuan: Nemo

Komunitas Dokter Mata Perempuan: Nemo

Komunitas Dokter Mata Perempuan: Nemo

Tak banyak komunitas seperti Nemo. Sama-sama perempuan, sama-sama lulusan spesialis mata FK Unair, dan ingin kebersamaan mereka bermanfaat bagi masyarakat miskin. Komunitas ini gemar melakukan operasi katarak. Rata-rata tiap bulan 100 penderita katarak miskin mereka operasi secara gratis.

“Kalau yang ini yang paling suka TP (tebar pesona, Red),” kara dr Uyik Unari SpM,menunjuk rekannya, dr Lina Hutasoit SpM. “Dia paling gemar menghabiskan uang suami. Melakukan kekerasan dalam anggaran rumah tangga,” sambung Uyik, kemudian disambut derai tawa yang lain. Gantian Lina yang balas menggojlok Uyik. Suasana itu menambah gayeng wawancara yang dilakukanKamis (5/7) lalu di Grand City Surabaya.

Inilah suasana yang tergambar ketika para anggota Nemo-nama komunitas dokter spesialis mata lulusan Unair berkumpul.

Total anggota 11 orang, yakni dr Uyik Unari SpM, dr Miftakhur Rahman SpM, dr Ariesanti Trihandayani SpM, dr Elizabeth Sri Subekti , dr  Lina Puspita Hutasoit SpM, dr Heni Wijayanti SpM, dr Yulia Primitasari SpM, dr Irma Pasaribu SpM, dr Dini Dharmawidyarini SpM, dr Yana Rosita SpM, dan dr Fitria Romadiana SpM. Koordinatornya adalah dr Uyik Unari.

Selain sebagai salah satu pendiri, dr Uyik menjadi koordinator karena dia mempunyai Klinik Mata di Gresik. Klinik tersebut menjadi tempat mereka melakukan bakti sosial (baksos) reguler.

“Juga mungkin karena saya yang paling cantik,”kata dr Uyik, bercanda, yang langsung disambut koor huuu…teman-temannya.

Menurut dr Ariesanti, salah seorang pendiri juga, Nemo berdiri pada 2007-an. Bermula ketika sebelas orang itu sama-sama menjalani pendidikan spesialis mata. Mereka tidak satu angkatan, tapi lima angkatan. Yakni angkatan 2006-2010. Ketika itu dr Ariesanti mengajak sejumlah rekannya hangout bersama, “Ternyata asyik-asyik dan gila-gila semua,” kata dokteryang kini bekerja sebagai dosen di Universitas Udayana, Bali tersebut kemudian ngakak.

“Mungkin masa kecil kurang bahagia semua, kecuali saya,”  imbuhnya yang kembali disambut teriakan protes teman-temannya.

Kelucuan mereka juga terlihat dari pemilihan nama untuk komunitas mereka. Kata Nemo bukan berasal dari nama karakter ikan lucu di film. Juga bukan nama dari kapten mitos dari India yang menjadi komandan kapal selam Nautilus. Tapi justru terinspirasi dari geng perempuan yang gemar bullying, kami ingin yang positif. Nero ke Nemo,” tutur Ariesanti.

Keakraban yang terjalin dimanfaatkan untuk saling mendukung. Tentu dengan khas Nemo. Seperti Miftakhur Rahman. “Saya yang lulusnya akhir-akhir. Sebenarnya nyaris putus asa,” kata dokter yang berdinas  di RSU Sidoarjo tersebut. Namun, Miftakhur Rahman akhirnya lulus berkat ancaman akan dikeluarkan dari Nemo jika tak lulus. “Diancam seperti itu sangat mengerikan bagi saya sehingga saya bekerja keras dan akhirnya lulus,” terangnya. “Ancaman akan dikeluarkan itulah yang merupakan dukungan  bagi saya untuk cepat lulus,”tambahnya.

Selain itu, komunitas ini berfungsi sebagai kelompok terapi. Setiap masalah yang menimpa salah satu anggota pasti dikeroyok biar cepat selesai. “Masalah apa saja. Mulai pegadaian hingga masalah pribadi,”kata Ariesanti, dengan nada kocak. Saking akrabnya, ada konvensi tidak tertulis, bila salah seorang anggota pergi ke luar negeri untuk suatu urusan, tanpa diminta, sepuluh anggota lain masuk list mendapat oleh-oleh.

Tapi, tentu saja bukan keakraban itu yang membuat mereka layak diberitakan, melainkan aktifitas sosial mereka.”Selain gila-gilaan, kami ini punya jiwa sosial,”terangnya.

Karena latar belakang mereka adalah dokter spesialis mata, satu-satunya aksi sosial yang bisa dilakukan adalah mengobati mata para masyarakat miskin. Karena merupakan penyakit degeneratif yang bakal menimpa siapa saja, operasi katarak menjadi sasarannya.

Biaya operasi tersebut sekitar Rp 3,5 juta. “Pasti sangat memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah. Padahal kalau dibiarkan, sangat mungkin mengakibatkan kebutaan,”kata Uyik.

Untuk itu, ada dua jenis baksos yang mereka lakukan. Yang pertama adalah reguler. Pusatnya di Klinik Mata Utama di Gresik. Aksi sosial ini dilangsungkan secara terus-menerus. Setiap Senin  dr Uyik dan stafnya melakukanscreening. Dia baru melakukan operasi mulai Selasa hingga Jum’at setiap pekannya.

Uyik dibantu rekan-rekannya.”Terutama yang bertugas dan berdomisili di Surabaya, Bangkalan, dan Sidoarjo,”terangnya. Jadi selalu ada rekan yang membantu saat baksos. Misalnya, yang dari Bangkalan datang tiapJum’at, kemudian dari Sidoarjo datang tiap Rabu. Begitu seterusnya. Rata-rata tiap bulan 100 pasien miskin dioperasi.

Kemudian baksos besar mereka lakukan setahun dua kali. “Itu menunggu semuanya kumpul dulu, baru baksos,”papar Uyik. Bagi mereka, baksos tersebut merupakan sasaran kedua. Yang utama adalah berkumpul bersama. “Pada dasarnya, kami ingin kumpul-kumpul. Tapi, kami juga ingin kumpul-kumpul kami bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya.

Untuk meringankan beban, mereka bekerjasama dengan banyak LSM dan perusahaan. Dengan skema ini, setidaknya beban yang mereka tanggung sedikit berkurang. Rata-rata dari LSM dan sponsorship, mereka mendapat subsidi  Rp 900 ribu per pasien dari total biaya Rp 3,5 juta.

Namun, Uyik menyadari bahwa kerjasama itu tidak bisa selamanya berlangsung. “Ada keterbatasannya pula,”terangnya. Untuk itu ke depan mereka akan mendirikan sebuah yayasan. Rencananya, yayasan tersebut dinamakan Yayasan Katarak Peduli.

Dengan yayasan, Uyik dan teman-teman akan lebih fokus pada penanganan pasien saja. Soal tetek bengek  administrasi diurus yayasan. Dana untuk yayasan ini rencananya didapatkan dari menghimpun CSR (corporate social responsibility) sejumlah perusahaan di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo.

“Jadinya, nanti ada semacam dana abadi. Dana tersebut sepenuhnya dikucurkan untuk membiayai  operasi katarak masyarakatmiskin,” tandas Uyik.

Uyik berharap katarak di kalangan masyarakat miskin kini bukan ancaman kebutaan lagi. Tak peduli semiskin apa pun, mereka bisa mendapatkan akses untuk operasi. “Ini karena di Indonesia katarak masih menjadi penyebab kebutaan nomor satu. Sebagian besar diantaranya terjadi di masyarakat  kelas bawah, yang tak punya akses untuk operasi,” terang perempuan 43 tahun tersebut.

Sumber Jawa Pos, Rabu 11 Juli 2012

Read More