Beyond ophthalmologist

Dokter Mata Masa Depan, Seperti Apa?

Masa depan menjadi sebuah tantangan dan harapan. Jika kita tidak mengikuti roda zaman, maka bersiaplah untuk tergilas masa. Hampir semua sendi kehidupan dituntut untuk berfikir dan bersikap semakin maju. Baik dunia pendidikan, sosial, budaya, dan tak terkecuali dunia medis. Dunia media sendiri semakin tahun semakin banyak inovasi dan pengetahuan baru. Sehingga munculah Beyond ophthalmologist, dokter mata masa depan. Seperti apakah dokter mata masa depan itu?

dr M. Nurdin Zuhri, SpM salah satu dokter mata di Klinik Mata Utama (KMU) mengemukakan bahwa dokter mata masa depan bukan sekedar dokter yang bisa mengoperasi mata, tapi dokter yang lebih dari itu.

“Kita harus berada di atas rata-rata. Lebih daripada optamologis. Lebih dari hanya sekedar spesialis mata biasa,”bukanya. Sehingga KMU mengusung Beyond ophthalmologist agar para perawat, para petugas maupun para dokter masing-masing memiliki semangat. “Jadi kami harus lebih dari standart yang ada,” lanjutnya.

Pria yang akrab dipanggil Nurdin itu pun menjelaskan bahwa ada tiga komponen yang harus dilakukan oleh seorang Beyond ophthalmologist.

Pertama, professional. Sebagai seorang tenaga medis yang professional, harus meningkatkan keahlian. Para dokter diharapkan selalu update keilmuan yang semakin canggih dan berkembang.

“Jika sama dengan kemarin saat lulus, lama-lama akan punah. Ini berlaku bukan hanya di dunia medis, tapi segala bidang ,”tuturnya mantap. Ia menambahkan, di samping tuntutan update, tuntutan dari masyarakat juga semakin tinggi dari hari ke hari.

Dulu, setelah menjalani operasi katarak bisa melihat dengan jarak 1-2 meter sudah senang. Tapi kalau sekarang tuntutannya lebih, setelah operasi katarak, keinginan untuk bisa melihat jelas seperti sebelum terkena katarak.

Dulu rawat inap, sekarang pasien minta langsung pulang. “Sehingga tuntutan tersebut harus kita ikuti sebagai peningkatan layanan bagi pasien,” imbuh ayah tiga anak ini.

Dokter Nurdin kemudian melanjutkan, selain meningkatkan keahlian, menjadi professional harus memiliki wawasan yang luas. Wawasan keilmuan , wawasan kedokteran juga wawasan yang lainnya. Karena setiap tahun kita akan memasuki era baru. Jika ilmu kedokteran yang didapat di bangku kuliah dulu diaplikasikan di era universal coverage, sudah tidak relevan lagi.

Menjadi professional juga diperlukan memperbaiki kepribadian. “Era sekarang adalah era dimana pasien sudah bisa memilih. Kalau dulu terima nggak terima ya sudahlah. tapi sekarang, pasien sudah bisa menerima dan memilih mana yang menurutnya nyaman untuk dijadikan sebagai orang yang menangani sakitnya,”kata pria kelahiran Pasuruan 1981 ini.

 

Selain komponen professional untuk menjadi Beyond ophthalmologist yang kedua adalah educational. Dokter Nurdin menuturkan bahwa kita harus terus belajar untuk menambah pengetahuan agar tidak tergilas oleh era yang semakin maju yang juga banyak menelurkan inovasi baru.

KMU menuntut para dokternya untuk selalu belajar, karenanya KMU menggandeng organisasi-organisasi PERDAMI, INASCRS, dan lain-lain untuk mewujudkan pengembengan pengetahuan , dari masing-masing petugas medis maupun pegawai KMU.

“Klinik Mata Utama  saat ini sangat terbuka, tidak ada ilmu yang ditutupi, dokter senior dan juniornya saling support dan saling sinergi, para dokter dan perawatnya akan cepat berkembang menurut saya,” akunya.

Salah satu komponen lagi untuk menjadi Beyond ophthalmologist adalah social. Seorang Beyond ophthalmologist diharuskan untuk senang berbagi. Salah satu caranya adalah dengan bakti sosial. Lewat bakti sosial inilah masyarakat bahwa katarak bisa diobati dan disembuhkan.

Selain berbagi juga rela berkontribusi dan bahagia berdaya bersama. “Jadi ketika ada rekan kita yang berhasil dalam operasi mata pasien, maka diri pribadipun turut bahagia,” pungkas suami Merlyna Savitri SpPD ini.

 

 

 

Sumber Majalah KMU

Foto Beyond Vision