Apa itu Anomali Refraksi

DIREKTUR Utama Klinik Mata Utama, dr. Uyik Unari, SpM mengatakan bahwasanya kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak terbentuk pada retina (makula lutea atau bintik kuning). Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik pada mata sehingga menghasilkan bayangan kabur. “Pada mata normal, kornea dan lensa akan membelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang betul-betul sesuai dengan panjangnya bola mata. Pada kelainan refraksi sinar tidak dibiaskan tepat pada bintik kuning, akan tetapi dapat di depan atau di belakang bintik kuning atau malahan tidak terletak pada satu titik yang tajam,” ungkap ibu lima orang anak tersebut. Kelainan refraksipun lalu juga dikenal dalam berbagai kelainan mata, yakni rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), mata dengan silinder (astigmatisma).

 Miopia (Rabun Jauh)

Miopia disebut sebagai rabun jauh, atau ketidakmampuan untuk melihat jauh, dan akan tetapi bisa melihat dekat dengan lebih baik. Menurut dr Uyik, Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan, sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina. “Miopia biasa disebabkan karena terlalu kuatnya pembiasan sinar di dalam mata untuk panjangnya bola mata akibat bola mata terlalu panjang, pembiasan sinar oleh kornea dan lensa terlalu kuat di depan retina dan titik fokus sinar yang datang dari benda yang jauh terletak di depan retina dan titik jauh (pungtum remotum) terletak lebih dekat atau sinar yang datang tidak sejajar difokuskan pada bintik kuning,” paparnya.

Gejalanya sendiri menurut ia seperti buram saat melihat jauh, sakit kepala, kecenderungan terjadinya juling saat melihat jauh dan lebih jelas saat melihat dekat. Cara pengobatannya biasa dengan pemberian lensa sferis negatif atau minus terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.

 Hipermetropia (Rabun Dekat)

Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hyperopia atau rabun dekat. Hipermetropia merupakan keadaan yang lebih jarang dibandingkan dengan miopia. “Mata hipermetropia mempunyai kekuatan refraksi yang lemah, sinar sejajar yang datang dari obyek terletak jauh tak terhingga dibiaskan di belakang retina,”tambahnya.

Gejala  hipermetropia sendiri adalah bila  hipermetropia 3 dioptri atau lebih, atau pada usia tua, pasien  mengeluh penglihatan  dekat  kabur. Turunnya tajam penglihatan dekat pada  pasien  tua disebabkan menurunnya amplitude akomodasi,  sehingga tidak dapat lagi mengkompensasi   kelainan  hipermetropianya atau penglihatan dekat lebih cepat buram. Karena kemampuan akomodasi menurun  dengan  bertambahnya  usia,  sehingga akomodasi tidak cukup kuat lagi untuk penglihatan dekat. Penglihatan dekat yang buram akan lebih terasa lagi pada keadaan kelelahan, atau penerangan yang kurang.

Dan yang terakhir adalah sakit kepala pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat yang panjang. Gejala ini jarang terjadi pada pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan bisa membaik spontan saat kegiatan melihat dekat dihentikan dan mengurangi sensitif terhadap cahaya. “Pengobatan pasien hipermetropia adalah dengan memberikan lensa sferis positif atau plus terbesar yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal,”kata dr Uyik.

 Astigmatisma (Silinder)

Astigmatisma adalah suatu keadaan refraksi yang memakai dua kekuatan pembiasan yang saling tegak lurus untuk mendapatkan penglihatan jauh dengan jelas. Hal ini disebabkan kornea yang mempunyai daya bias berbeda-beda pada berbagai meridian pembukaan mata atau kornea. “Astigmatisma adalah keadaan dimana sinar sejajar tidak dibiaskan secara seimbang pada seluruh meridian. Pada astigmatisma regular, terdapat dua meridian utama yang terletak saling tegak lurus. Umumnya setiap orang mempunyai astigmatisma ringan,” urainya.Pada astigmatisma bisa dilihat berbagai faktor, diantaranya lengkungan jari-jari pada satu meridian  kornea lebih  panjang  dibanding  jari-jari  meridian yang tegak lurus padanya dan pembiasan sinar pada mata tidak sama pada semua bidang atau meridian.

Astigmatisma disebabkan karena pembiasan sinar yang tidak sama pada berbagai sumbu penglihatan mata, misalnya kondisi mata lebih rabun jauh pada salah satu sumbu (misal 90 derajat) dibanding sumbu lainnya (180 derajat). Umumnya akibat kornea berbentuk lonjong (oval) seperti telur. Makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmatisma mata. “Astigmatisma juga dapat terjadi akibat jaringan  parut  pada  kornea  atau  setelah pembedahan  mata.  Jahitan  kornea  yang terlalu kuat pada bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada pembukaan kornea.  Bila  jahitan  kornea  pasca  bedah mata dilonggarkan, maka keluhan adanya astigmatisma akan berkurang”, pungkasnya. Gejala   astigmatisma   adalah   penglihatan  kabur,  head  tilting,  menengok untuk melihat jelas dan kelopak mata menyempit.

Penatalaksanan Kelainan Refraksi yang di Himpun tim Mata Magz:

a. lensa Kacamata

Kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi. Keuntungan kacamata pada orang miopia adalah kemampuannya untuk membaca huruf-huruf cetak yang paling kecil tanpa memakai kacamata walaupun usianya lebih lanjut. Kacamata yang diperlukan seseorang dengan hipermetropia adalah lensa positif atau konveks yang merupakan lensa yang tebal di tengah.

 b. lensa Kontak

Lensa kontak keras, yang terbuat dari polimetilmetakrilat, merupakan lensa kontak pertama yang bernar-benar berhasil dan memperoleh penerimaan yang luas sebagai pengganti kacamata. Pengembangan selanjutnya antara lain adalah lensa kaku yang permeabel-udara, yang terbuat dari asetat bultirat selulosa, silikon, atau berbagai polimer plastik dan silikon. Juga lensa kontak lunak, yang terbuat dari bermacam-macam plastik hidrogel, yang semuanya menghasilkan kenyamanan yang lebih baik tetapi resiko penyulit serius lebih besar. Sedangkan lensa kontak lunak, terutama bentuk-bentuk yang lebih lentur, mengadopsi bentuk kornea pasien. Dengan demikian, daya refraksinya terdapat hanya pada   perbedaan   antara   kelengkungan depan dan belakang, dan lensa ini hanya sedikit mengoreksi  astigmatisma  kornea kecuali apabila disertakan koreksi silindris. Lensa  kontak  mengurangi  masalah penampilan  atau  kosmetik  akan  tetapi perlu diperhatikan kebersihan dan ketelitian pemakaiannya. Selain masalah pemakaiannya, perlu diperhatikan masalah lama pemakaian, infeksi, dan alergi terhadap bahan yang dipakai.

 c. Bedah Keratorefraktif:

Bedah Keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan permukaan interior mata. Adalah tidak mungkin untuk memendekkan bola mata pada miopia. Pada keadaan tertentu miopia dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea. Pada saat ini terdapat berbagai cara pembedahan pada miopia, seperti keratotomi radial-radial keratotomy (RK), keratotomi fotorefraktif, photorefractive keratotomy (PRK) dan laser assisted in situ interlameral keratomilieusis (LASIK).