Dari Metode jadul ke Canggih

Kata Katarak berasal dari bahasa Latin ‘cataracta’, yang artinya air terjun. Sebutan itu diberikan karena mata penderita katarak berwarna putih kelabu seperti air terjun yang mengalir deras.

Operasi katarak juga diketahui sebagai operasi tertua di dunia. Beberapa ukiran pada dinding kuil dan makam raja-raja kuno Mesir menggambarkan alat-alat yang dipakai dalam operasi katarak. Catatan detail mengenai prosedur operasi katarak senditi terekam sejarah sejak abad ke 5 SM.

Sebuah jurnal berbahasa sansekerta yang ditulis oleh Maharesi Shushutra , ahli bedah india kuno, menjelaskan mengenai operasi katarak dengan teknik couching. Teknik itu adalah mengoperasi katarak dengan memindahkan lensa mata yang terkena katarak ke lokasi ke posisi lain. Teknik ini bisa membuat pasien kembali melihat, namun pandangan tetap buram karena posisi lensa mata yang salah. Prosedur ini juga pernah dilakukan di Cina pada abad ke 2 SM. Dunia barat baru menerapkan teknik mengoperasi katarak ini pada tahun 29 SM, seperti disebutkan oleh Aulus Cornelius Celsus dalam tulisan De Medicinae. Meski demikian , prosedur ini dinilai berbahaya dan tidak berhasil menyembuhkan katarak. Sebaliknya, metode ini menimbulkan berbagai komplikasi, dan pada beberapa kasus justru menimbulkan kebutaan permanen.

Baru pada abad ke 10 Masehi, mulai ditemukan cara yang lebih aman dalam operasi katarak. Seorang dokter Persia bernama Muhammad bin Zakariya al-Razi mengaplikasikan teknik operasi katarak melalui penyedotan katarak. Ia menggunakan jarum suntik berongga untuk menghisap katarak. Al-Razi menyebutkan bahwa jarum itu sendiri sudah ditemukan sejak abad ke 2 Masehi oleh dokter Yunani, Anthyllus.

Operasi katarak era modern ditandai oleh penemuan metode operasi katarak oleh Jacques daviel, seorang dokter dari Paris pada tahun 1748. Tidak seperti metode pada masa kuno sebelumnya, metode yang dilakukan oleh Daviel ini benar-benar mengangkat katarak dari lensa mata.

Kemudian, baru pada tahun 1940-an mulai ditemukan cara memasang lensa buatan pada pasien katarak. Metode tersebut ditemukan oleh dokter mata asal Inggris, Sir Nicholas Harold Lloyd Ridley pada tahun 1949.

Sedangkan teknik operasi katarak paling modern, fakoemulsifikasi , ditemukan pada tahun 1967, oleh Charles kelman. Metode ini menggunakan gelombang suara ultrasonik untuk memecah katarak tanpa perlu melakukan penyayatan besar pada mata. Metode ini memungkinkan seseorang langsung beraktivitas normal setelah operasi. Operasi ini juga berlangsung sangat cepat, hanya perlu waktu sekitar 15 menit.

Meski teknik ini sudah cukup lama dikenal, baru sedikit dokter spesialis mata di Indonesia yang menguasai teknik ini. Diantaranya adalah Dokter Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM, Dokter Fitria Romadiana SpM dan Dokter Danti Ayu Irawati, SpM yang berpraktik di Klinik mata Utama Gresik

× Hubungi Kami