DETEKSI DINI GLAUKOMA DI PELAYAN KESEHATAN PRIMER

       Glaukoma merupakan suatu sindroma ( a group of disease ) yang ditandai dengan adanya neuropathy optik yang khas dengan kenaikan Tekanan Intra Okuler (TIO) sebagai salah satu faktor risiko serta faktor risiko lain yang tidak diketahui peranannya pada kerusakan saraf optik. Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan pada orang dewasa yang bersifat permanen yang berbeda dengan kebutaan akibat katarak atau kelainan refraksi yang sifatnya revesible atau dapat dioperasi atau dikoreksi sehingga tajam penglihatan dapat kembali seperti orang normal.

        Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomer 2 di Indonesia yang insidensinya meningkat secara dramatis bersamaan dengan bertambahnya usia dan semakin panjang usia harapan hidup orang Indonesia. Glaukoma ditaandai dengan Trias Glaukoma yaitu tekanan intra okuler yang meningkat, penggaungan papil saraf optic disertai atropi pail saraf optik dan adanya defek lapang pandang. Pada beberapa keadaan, satu gejala mungkin sudah cukup untuk membuat diagnosis glaukoma.

     Klasifikasi glaukoma sangat panjang, akan tetapi yang terpenting adalah mendiagnosa glaukoma daripada menentukan jenis spesifik atau penyebab sekundernya. Kontrol terhadap glaukoma menjadi lebih sukar dengan terjadinya kerusakan saraf optik. Berdasarkan alasan ini diagnosis dini glaukoma adalah sangat penting untuk kepentingan prognosisnya.

      Pada glaukoma tekanan intra okulernya lebih tinggi daripada yang bisa ditolelir oleh mata tersebut. Tekanan intra okuler rata-rata pada orang normal adalah 15 + 3mm Hg; Pada 98% penderita bukan glaukoma, tekanan intra okulernya kurang dari 21 mm Hg. Terdapat  2 ( dua ) golongan utama glaukoma yaitu primer dan sekunder.

     Pada glaukoma sudut terbuka primer, tekanan intra okuler tinggi walaupun sudut bilik mata depan terlihat normal, tidak terdapat parut (sinekia anterior perifer), tidak terdapat pembuluh darah yang abnormal, dan tidak terdapat figmen yang berlebihan di sudut bilik mata depan.

       Pada glaukoma tekanan rendah ( termasuk glaukoma sudut terbuka primer ), dimana terdapat penggaungan papil saraf optik dan defek lapangan pandang akan tetapi tekanan intra okulernya normal, pada orang lain dengan tekanan yang normal seperti itu tidak menimbulkan kerusakan saraf optikus, kerusakan ini mungkin berhubungan dengan hipotensi sistemik akut, seperti pada shock atau kehilangan darah yang serius. Kategori kedua dari glaukoma primer yang jarang dipakai adalah glaukoma sudut tertutup yang biasa terjadi karena :

  1. Blok Pupil Disini akuos humor tidak dapat mengalir dari bilik mata belakang ke bilik mata depan, karena meningkatnya tekanan di dalam bilik mata belakang akibat meningkatnya produksi humor akuos, seluruh dataran iris terdorong ke depan sehingga bilik mata depan menjadi dangkal, dan secara sekunder menutup sudut bilik mata depan.
  2. Blok Siliar Yang terjadi karena rotasi badan siliar, diafragma iris, lensa ke depan ( glaukoma maligna ), yang biasanya terjadi pada paskah bedah terutama pada paskah bedah katarak.
  3. Blok Iris Perifer Disisi konfigurasi iris yang dikenal plateu iris memblokade struktur sudut, jenis glaukoma ini sangat jarang.

GLAUKOMA SEKUNDER

         Penyebab glaukoma sekunder banyak ragamnya, misalnya radang di dalam segmen anterior atau sel-sel radang atau produk radang yang menyumbat jalinan trabekel ( trabekular meshwork ) sehingga terjadi glaukoma sekunder, disamping itu darah di bilak mata depan juga dapat menimbulkan glaukoma sekunder.

         Trauma bisa mengakibatkan terjadinya glaukoma sekunder sudut terbuka sekunder karena kerusakan langsung pada struktur sudut ( resesi sudut ), perdarahan yang masuk ke dalam struktur sudut ( hifema ) atau hasil penguraian darah yang memblokade atau merusak jalinan trabekel.

      Penggunaan tetes mata steroid dalam jangka lama dapat menyebabkan terjadinya glaukoma, sehingga perlu ditanyakan adanya penggunaan tetes mata steroid tersebut pada penderita.

         Banyak glaukoma yang disebabkan oleh atau yang berkaitan dengan lensa kristalina, contoh pada katarak yang imatur, terjadi penggembungan lensa sehingga mengakibatkan blok pupil, dislokasi lensa dan katarak oleh karena lensa yang hiper matur juga bisa menyebabkan terjadinya glaukoma sekunder.

      Neovaskularisasi iris bisa menyebabkan terjadinya parut yang dapat menutup jalinan trakebel dan struktur sudut, Neovaskularisasi iris ini sering terjadi pada sumbatan vena retina sentral dan juga sebagai penyulit pada kasus diabetes melitus.

× Hubungi Kami