ekspresi pasien pasca operasi katarak

Ekspresi Pasien, Dari Sujud Syukur Hingga Mendoakan Masuk Surga

Setiap pasien yang datang ke KMU membawa kisahnya masing-masing. Beragam ekspresi bahagia tak mampu disembunyikan dari pemiliknya. Setelah sekian lama tidak melihat, kemudian pasien bisa melihat kembali. Itu penyebabnya.

Hamid Andre Pratama, salah satu perawat Klinik Mata Utama pernah dipeluk dan dicium pasien KMU seusai menjalankan operasi. Setelah Hamid membantu membuka perban, pasien itu berkali-kali berterima kasih. Tidak hanya itu, pasien wanita tersebut tiba-tiba saja memeluknya lama. Tak cukup dengan pelukan, pasien itu juga melayangkan ciuman di pipi Hamid. “Untunglah pasiennya sudah nenek-nenek, jika tidak malah copot jantung saya,” katanya sembari tertawa.

Melihat itu, hamid tersenyum senang. Ini peristiwa lucu baginya. “melihat pasien bahagia itu sangat membahagiakan,” kata pria yang sudah bekerja sejak KMU berdiri ini. Bahkan peristiwa sejenis pernah ia saksikan secara langsung dengan jumlah pasien KMU yang mencapai ribuan.

Pengalaman lain yang tak mungkin dilupakan Hamid adalah kisah pertemuannya dengan belahan jiwanya di KMU. Antara perawat dan pasien yang kemudian menjadi suami istri. “Itu berkah saya bekerja di sini,” katanya bahagia.

Cerita lain muncul dari As’ad (53), yang berprofesi sebagai petugas kebersihan kampung. Setelah dioperasi dan sehat kembali, tanpa malu-malu ia langsung sujud syukur di tempat. “Saya langsung sujud syukur, tidak menyangka bisa melihat kembali, saya bisa melihat semuanya, ini keajaiban!,” katanya bahagia. Yang lebih membahagiakan lagi, lanjutnya, ia bisa bekerja kembali, mencari nafkah untuk keluarga yang selama setahun tidak bisa dilakukan . Selama ini ia hanya bisa melihat bayangan hitam, tanpa pernah tahu bayangan yang ada di depannya. “jangankan bekerja, untuk berjalan saja , saya harus dituntun,” katanya.

Didoakan Masuk Surga

Cerita dari dr, Uyik Unari, SpM, Direktur KMU berbeda lagi. Suatu saat, ia dibuat kaget dengan salah satu pasien yang membawa bermacam-macam hasil panennya dari desa. “Ada beras, ubi, ketela, dan macam-macam, buanyak di sini,” ceritanya. Dengan heran Dokter Uyik bertanya untuk apa semua itu? “Ini ucapan  terima kasih saya karena sudah bisa melihat, semuanya saya bawa langsung dari desa untuk Dokter,”kata Dokter Uyik menirukan. “Saya sudah meninta agar tidak repot-repot, namun itu wujud ekspresi kebahagiaan mereka,” imbuhnya.

Tak hanya beragam pemberian dari pasien, doa-doa pun seringkali terus terlantun bersamaan dengan ucapan terima kasih. “Doa-doa itu yang seringkali membuat saya merinding, saya terharu sekali. jika sudah demikian, saya tidak kuat untuk tidak menangis,”akunya.

Pasien-pasien itu, lanjutnya, selalu mengeluarkan semua doanya untuk Uyik dan keluarga. “Beberapa dari mereka mendoakan kami masuk surga. Saya hanya mengamini doa mereka, dan berharap keberkahan dari doa doa itu,” katanya.

Mari belajar pada mbah Simpen, perempuan sepuh asal Moro Calar, Glagah Lamongan. Di usia 97 tahun, dengan mata yang sudah kabur, tetap memiliki kemauan kuat agar bisa istiqomah membaca Al Qur’an.

Ketika di dalam rumah cahaya makin gelap, beliau memilih mengaji di teras. Lumayan bisa lebih jelas.

Bahkan, saat rumahnya kebanjiranpun, tak menjadi penghalang beliau tetap berusaha bisa mengaji. Sambil duduk khusyu’ di kursi teras, susah payah mengeja huruf, meski air merendam kaki.

Mbah simpen bersyukur ketika didatangi tim Klinik Mata Utama . Insya Allah penyakit kataraknya akan dioperasi. “Alhamdulilah saya akan bisa ngaji dengan terang” katanya.

Mbah Sukaria, 64 tahun berbeda lagi. Dia mengaku bahagia bisa melihat lagi. “Kulo sampun kepingin saged ngaos mboten ketingal. Sampun ditumbasaken lampu duduk kalian anak kulo, malah ulap, (Saya sudah ingin bisa membaca lagi. Kemarin tidak kelihatan saat membaca. Meskipun sudah dibelikan lampu duduk sama anak saya, ternyata malah silau,”

 

Sumber: Majalah Klinik Mata Utama (KMU), Edisi 04

Leave a Reply

Your email address will not be published.