Menipisnya Lapisan Ozon Tingkatkan Penyakit Katarak

Menipisnya Lapisan Ozon Tingkatkan Penyakit Katarak

Kerusakan ozon telah menjadi perhatian dan kekhawatiran dunia. Berbagai penyakit dan gangguan kesehatan dapat timbul akibat peristiwa ini. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer pada ketinggian 19-48 km (12-30 mil) di atas permukaan bumi yang mengandung molekul-molekul ozon. Konsentrasi ozon di lapisan ini mencapai 10 ppm dan terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet matahari terhadap molekul-molekul oksigen. Peristiwa ini terjadi sejak berjuta tahun yang lau, tetapi campuran molekul-molekul nitrogen yang muncul di atmosfer menjaga konsentrasi ozon relatif stabil.

 

Ozon adalah gas beracun sehingga berada di dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupandi bumi karena dia melindungi dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu, para ilmuwan sangat khawatir ketika mereka menemukan bahwa bahan kimia klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan sebagai media pendingin dan gas pendorong spray derosol, memberikan ancaman terhadap lapisan ini.

Kebanyakan radiasi yang sampai ke bumi merupakan sinar UV-A yang memiliki panjang gelombang 315-400 nanometers. Sementara sinar UV-C (180-280 nm) akan dihalangi sepenuhnya oleh atmosfer dan UV-B (290-315 nm) yang dapat menyebabkan katarak, kanker kulit, dan bersifat immunosupresi akan diserap ozon pada lapisan stratosfer. Namun seiring dengan menipisnya ozon akibat penipisan gas CFC, sinar UV-B ini tidak terblok dan dapat menimbulkan berbagai penyakit noninfeksi tersebut.

 

Katarak dan Kerusakan Mata

Pada mata, energi radiasi UV-B sebagian besar diserap kornea dan dapat mencapai lensa. Sementara UV-A dapat diserap kuat oleh lensa dan sebagian kecil dapat mencapai retina. Katarak merupakan penyebab kebutaan dari setengah jumlah kasus kebutaan akibat radiasi ultraviolet. Risiko ini meningkat sebanding dengan dosis pajanan radiasi. Asam amino dan sistem transport membran pada lensa umumnya mudah mengalami proses fotooksidasi oleh oksigen radikal dan UV-B.

 

Gangguan mata lain yang dapat terjadi akibat radiasi adalah keratokonjungtivis, pterigium, eritema dan gangguan pada kornea dan kelopak mata. Keratokonjungtivis (welder’s flash atau snow blindness), yaitu reaksi radang akut kornea dan konjungtiva mata akibat reaksi fotokimia pada kornea(fotokeratitis) dan konjungtiva (fotokonjungtivitis) yang dapat timbul beberapa jam setelah pajanan 200-400nm dan berlangsung umumnya hanya 24-48 jam. Gejala yang mungkin timbul berupa memerahnya bola mata disertai rasa sakit yang parah dan pada beberapa kasus terjadi blepharospasme.

Eritema kornea mata muncul beberaa jam setelah pajanan akut 20-400 nm, biasanya berlangsung selama 8-72 jam bergantung tingkat pajanan dan daerah spektrum. Pajanan kronik dapat pula menimbulkan pterygium atau tumpukan lemak di atas kornea.

 

Sumber: Penyakit Berbasis Lingkungan Karya Prof. dr. Anies, M.Kes,PKK, halaman 167

Leave a Reply

Your email address will not be published.