All Posts Tagged: Katarak

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

70 Persen Pasien Baksos, 30 Persen Privat

Bila ia dan teman-temannya seangkatan menggelar baksos hanya pada waktu tertentu karena harus menyesuaikan dengan waktu dan kesempatan, di Gresik, tempat Uyik praktik baksos malah digelar setiap hari.

“Klinik saya setiap hari kami lakukan baksos, mereka yang benar-benar membutuhkan, kami berikan pengobatan gratis termasuk kalau harus operasi,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Unair tahun 1995 itu.

Baksos yang digelar Uyik dilakukan dengan mencari pasien sendiri ke pelosok di wilayah Gresik dan sekitarnya. “Saya mencari pasien dengan datang kedesa-desa di wilayah Gresik,”katanya.
Warga masyarakat yang ingin mendapat fasilitas pengobatan cuma-cuma itu bukan hanya berasal dari Gresik. Itu membuat Klinik Mata Utama milik Uyik dikenal.

“Mungkin melalui saudara atau tetangga mereka juga datang dari beberapa wilayah lainnya yang bertetangga dengan Gresik, seperti Lamongan, Tuban, Mojokerto, hingga Tuban,” paparnya.
Melihat antusiame masyarakat itu, mau tidak mau Uyik akhirnya juga harus memberikan perhatian kepada pasien yang berada di luar Gresik. Dengan dibantu tim, Uyik pun blusukan ke sejumlah daerah untuk scanning pasien yang akan mendapat pengobatan gratis.
“Saya datang ke suatu tempat itu melalui kepala desa. Kami berikan pengarahan dan bila ada yang harus diobati mereka saya suruh datang ke klinik kami. Semuanya gratis,” ujarnya.

Di kliniknya ada empat dokter dan lima paramedic. Mereka itulah yang menjadi teman-teman setia Uyik dalam melakukan kegiatan baksos di kliniknya. Tidak ada perbedaan penanganan kepada pasien baksos yang datang dengan pasien privat yang ada di kliniknya.
Namun, untuk mempermudah biasanya pasien baksos ini penanganan dilakukan pada pagi hingga siang. Pasien baksos yang datang ini jumlahna 70 persen dibandingdengan pasien privat yang ditangani yang hanya 30 persen.

Surya: Minggu, 28 April 2013

Read More
dokter uyik unari KMU

Dokter yang Mengoperasi 4000 Penderita Katarak Gratis

Dokter yang Mengoperasi 4000 Penderita Katarak Gratis

Tertawanya berderai renyah, orangnya ramah. Sebagian besar orang mengenal dr Uyik Unari Dwi Kaptuti SpM dengan citra seperti itu. Namun, lebih banyak lagi yang mengenal direktur Klinik Mata Utama (KMU) ini sebagai dokter yang memiliki jiwa sosial tinggi.
Kesan itu memang tak salah. Mulai saat KMU berdiri pada 2010 di Jalan Sumatera 27F GKB Kota Gresik, Jawa Timur hingga kini, tak kurang 4.000 mata dhuafa penderita katarak telah dioperasi secara gratis. Syaratnya pun sangat mudah.

“Cukup menunjukan surat pengantar, dari lembaga pemerintahan tingkat desa, atau ahanya dari level RT/RW, bahkan surat pengantar dari majelis taklin sekitar rumahnya, sudah cukup bagi kami untuk tak boleh menolaknya. Harus memberikan layanan yang baik bagi mereka,”kata Uyik saat berbincang dengan Republika, kemarin.

Selain dibiayai dengan dana pribadi dan KMU, operasi katarak gratis juga dibantu salah satu perusahaan obat dan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI). Uyik juga dibantu beberapa koleganya yang mendirikan Yayasan Katarak Peduli (YKP)
Dari mana ribuan pasien tersebut? Uyik dan timnya sering blusukan ke berbagai daerah. Dua tiga kali dalam sepekan, alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini menyediakan semua kemudahan bagi pasien sosial.

Uyik dan suaminya Rusli, punya alasan kuat untuk aktif memberantas katarak. Salah satunya karena berdasarkan data 70 penyebab kebutaan di Indonesia disebabkan katarak. “Harus diberantas dan dituntaskan . Mata masyarakat yang sakit harus kembali bercahaya.” ujar Uyik.

Uyik makin merasa miris saat mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada 2010, misalnya , di Indonesia setiap tahun sekitar 210 ribu orang mengidap katarak. Indonesia berada di peringkat kedua jumlah penderita katarak terbanyak di dunia.

Keprihatinan itulah yang mendorong Uyik dan suami mengemban misi sosial. Bagi keduanya, menolong orang tidak mampu tidak perlu pikir panjang. “Tidak bisa ditunggu. Belum tentu lima tahun kemudian dia punya uang. Harus ditolong segera,”ujar Uyik.

Kini KMU sudah berdiri di 10 lokasi. Uyik pun mengembangkan tiga prinsip pengabdian, yaitu profesional, edukasi, dan sosial. Prinsip profesional menjadikan KMU harus memanfaatkan peralatan dan teknologi medis tercanggih. SDM yang tahu, mau, mampu mengembangkan diri, serta kualitas layanan yang berkesan.

“Prinsip edukasi mendidik kami berendah hati tak henti belajar sekaligus berbesar hati membagi keahlian yang telah dimiliki,” katanya.
Sementara prinsip sosial, memberi jalan agar ringan hati berbagi. Uyik mengaku bersyukur kepada Allah karena KMU sudah diberi kesempatan memberikan layanan operasi katarak gratis bagi 4000 mata. “Sebagai sumbangsih menjaga kesehatan mata generasi baru Indonesia, KMU juga secara rutin menggelar program KMU Goes to School, berupa periksa mata, edukasi, dan bagi kacamata gratis.”

Dari pengalaman menolong ribuan penderita katarak itu lahirlah kisah -kisah unik. Uyik lalu menuangkan coretannya dalam buku berjudul Thausand ISland of Love. Tulisan dibuatnya, termasuk ketika merenung di kamar tidur, melihat tanaman melalui jendela rumah, bahkan di ruang praktik operasi. Begitu datang ide, Uyik langsung mengeksekusinya. Pun kadang ditulis di ponsel juga bisa.

Aneka cerita tadi lalu dikumpulkan menjadi buku. Tujuan utamanya, mengabadikan momen yang pernah dirasakan dan dialami. “Coretan itu saya tulis saat di mana saja. Di sela-sela perjalanan, dalam mobil, pesawat, kereta api, stasiun, atau bandara saat pesawat delay,” jelasnya.
Mbah Darjo (70tahun), warga Sawahan, Kecamatan Cerme, Gresik, termasuk yang bersyukur akhirnya penglihatannya bisa pulih lagi.

Sebagai penarik becak, Mbah Darjo cukup terganggu dengan penglihatannya yang selama ini buram akibat menderita katarak. Namun berkat bantuan KMU yang mau mengoperasi matana secara gratis, ia kini beraktifitas secara normal.”Kalau saya tidak ditolong, saya tidak bisa apa-apa, hanya bisa makan tidur. Terima kasih mata saya bisa melihat lagi dengan jelas,”ujar Mbah Darjo.

Sumber: Republika, Sabtu 21 April 2018

Read More
Dokter Spesialis Mata Terbaik di Klinik Mata Utama Uyik Unari

Melawan Stereotip Menakutkan Operasi Mata

Sebagian awam menganggap bahwa operasi mata itu menakutkan. Dengan bermodalkan cerita dari mulut ke mulut, dogma tersebut semakin membuat khawatir.

“Ada sebagian pasien yang telah setuju untuk dioperasi, tiba-tiba memutuskan tidak jadi operasi, ya karena takut operasinya tidak berhasil,” ungkap dr. Uyik Unari, SpM.

Para dokterpun menyadari, memang tidak mudah untuk mengalihkan perhatian orang awam bahwa teknologi operasi masa kini telah berbeda jauh dengan mesin operasi zaman dahulu. Jika masih menggunakan sistem jahit tentu memerlukan waktu sedikit lama. “karena itu kami menghadirkan alat phacoemulsifikasi yang memudahkan operasi, bahkan hanya 10-15 menit saja.” kata Dokter Uyik.

Dengan menggunakan peralatan modern bernama phacoemulsifikasi itu, lanjut wanita berkacamata ini, KMU optimis bisa menurunkan angka penderita katarak, terutama di daerah yang sudah berdiri KMU. Phacoemulsifikasi yaitu suatu alat bedah katarak tanpa jahitan dengan teknologi mutahir. Alat operasi katarak Phaco yang digunakan adalah buatan ALCON, USA. Begitu juga Intra Ocular Lens IOL Acrysoft, yaitu lensa buatan yang berfungsi mengganti lensa yang keruh.

Hadirnya peralatan canggih tersebut diharapkan akan membuat berkurangnya persepsi yang menimbulkan ketakutan masyarakat tentang operasi mata pada umumnya. Sebab menghilangkan persepsi tentu membutuhkan waktu dan bukti yang cukup. Hingga nanti tidak ada lagi pasien yang menganggap bahwa katarak adalah penyakit tua yang tidak bisa disembuhkan. Karena katarak bisa disembuhkan sesuai tingkat keparahannya. Bisa jadi tidak cukup hanya sekali operasi. Semuanya bergantung bagaimana kondisi mata, serta penyakit bawaan yang mungkin diidap pasien tersebut.

Gelar Edukasi di Daerah

Penyakit katarak di Indonesia telah mencapai angka yang sangat memprihatinkan (WHO-Who Health Organization-,2010). Setiap tahunnya muncul sebanyak 210.000 orang yang mengalami katarak. Namun yang dapat di obati dengan cara operasi katarak baru 120.000 orang setiap tahunnya. Hal seperti ini mengakibatkan munculnya cataract backlog yaitu penumpukan pengindap katarak yang sangat tinggi.

Latar belakang pasien katarak disebabkan oleh penyakit klasik orang pinggiran pantai serta pengaruh usia. Sebab banyak masyarakat yang belum sadar betapa berbahayanya apabila mata terkena matahari langsung dengan durasi waktu yang terbilang lama.

One Day Care, Pasien Tak Perlu Rawat Inap

Tak hanya di Gresik, pasien juga masih banyak ditemui dari luar Gresik. Hal tersebut pula yang memicu KMU untuk bergegas membuka cabang di berbagai titik dengan geografis utama berdekatan dengan pantai.

“Klinik kami sedang menggalakan ‘One Day Care’ yakni siap menjadi one stop solution bagi penyakit katarak. Jadi, pasien tak perlu datang berkali-kali ke klinik atau melakukan rawat inap. Cukup datang sekali, dan hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 30 menit, penyakit katarakpun bisa teratasi,” ujarnya(ce2)

Sumber: magazine mata utama edisi 04

Read More
ied mubarakKMU libur

Libur Lebaran 2017, Berikut Jadwal Operasional KMU

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Lebaran bagi kami, keluarga besar KMU, adalah kesempatan untuk berbahagia bersama keluarga. Sebuah kebersamaan yang indah luar biasa.

Karenanya, mohon ijinkan kami rehat sejenak menikmatinya. Agar energi kembali terkumpul dan bergelora. Sebagai modal untuk kembali bekerja, memberikan layanan terbaik untuk para pasien dan mitra.

InsyaAllah, KMU akan kembali melayani seperti biasa, mulai tanggal 3 Juli 2017. Bagi warga masyarakat yang akan memeriksakan kesehatan mata bisa mendatangi Klinik Mata Utama di Gresik atau di daerah yang sudah bekerjasama dengan KMU seperti KMU Lamongan, RSUD Ngimbang Lamongan, RSI Jemursari Surabaya, RSI Darus Syifa Surabaya, RSNU Tuban, RSI Garam Kalianget Madura, dan RSI Sakinah Mojokerto.

 

Read More
Operasi Katarak di Mojokerto

Tangani Operasi Katarak, KMU Kerja Sama Dengan RS Hasanah

Klinik Mata Utama (KMU) dan RS Hasanah Mojokerto komitmen kerja sama. Tepatnya Selasa 13/7/2017, menjadi hari yang bersejarah bagi kedua lembaga kesehatan ini. Salah satu bentuknya adalah mengurangi angka katarak di Indonesia, dan dilaksanakannya operasi katarak perdana di Mojokerto.

Ada 7 pasien yang mengawali hari bersejarah ini. Kebetulan semua pasien BPJS. Dan alhamdulillah, semua operasi berlangsung dengan lancar tanpa kendala. Tim KMU yang datang lengkap. Ada dokter Nuke Erlina Mayasari, SpM dan juga tim perawat dan tim tehnis.

“Semoga ini semua menjadi awal yang baik bagi pengabdian dan layanan kami, terutama untuk warga Mojokerto dan sekitarnya” begitu salah satu pesan KMU melalui media officialnya.

Yang menambah semangat tim KMU tentu adanya feedback positif dari pasien, salah satunya pada hari itu adalah keterangan dari Ibu Sumiati (81) salah satu pasien dari 7 pasien operasi. Ibu Sumiati merupakan salah saru warga Cakarayam Mojokerto, ketika menjawab pertanyaan perawat setelah menjalani operasi perdana, “Tidak sakit” begitu jawaban tulus Ibu Sumiati yang diantar oleh anak dan menantunya.

 

Pasien Operasi Mata asal Mojokerto

Ibu Sumiati yang tinggal di Cakarayam ini tampil lebih cantik ketika dipasangkan kaca mata kece oleh Mbak Anggi, salah satu perawat KMU.”

 

Read More
Semua orang bisa terkena katarak

Semua Manusia Bisa Terkena Katarak

Katarak merupakan ketidakmampuan lensa mata untuk mempertahankan kejernihannya karena usia. Dengan menjalani pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan dini saat memasuki usia 50 tahun, kita dapat memperlambat, bukan untuk menghindari terjadinya kondisi tersebut.

Diibaratkan seperti uban yang mulai tumbuh di kepala, semua manusia pasti akan mengalami katarak. Sama seperti uban, kita tidak akan pernah tahu kapan katarak itu ada di diri kita.

Bahkan angka kebutaan di Indonesia sangat tinggi, menurut sebuah rumus dari ahli mata menyebutkan setiap 1,5 % dari 1 juta penduduk mengalami kebutaan dimana 0,78% diantaranya adalah disebabkan katarak. Berarti ada 7800 orang buta disebabkan katarak pada setiap 1 juta penduduk, oleh karena itu menjadi salah satu landasan berdirinya Klinik Mata Utama.

Perlu pembaca ketahui bahwa kemampuan dokter saat ini hanya bisa menangani 400 pasien per satu juta penduduk.

Kemunculan katarak biasa terjadi pada usia 40 atau usia 50 tahun. Tidak menutup kemungkinan ada yang sudah berusia 70 tahun masih hitam saja mungkin.

Salah satu saran dari ahli katarak Klinik Mata Utama yaitu, jika kita berasal dari keluarga yang memiliki riwayat diabetes, dimohon untuk mulai rutin mengecek gulanya saat berusia 40 tahun ke atas. Karena, begitu 40 tahun ke atas, kita telah memasuki fase tua.

“Apa yang di saat usia muda belum muncul, tiba-tiba di usia 40 ke atas, semuanya akan muncul. Terlebih bila kita sakit, karena adanya riwayat di dalam keluarga. Jangan pernah malas untuk melakukan skrining di usia tersebut,” salah satu pesan dari Dokter Ucok P. Pasaribu, SpM seperti dikutip dari Liputan6.

 

Foto : eyewear.org

 

 

Read More